Tampilkan postingan dengan label Metode Riset. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metode Riset. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 November 2011

METODE RISET BAB IV & V

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

~Deskripsi

Dalam melakukan penelitian ini jumlah sampel yang diambil adalah sebanyak 240 Pekerja, baik karyawan,buruh dan pekerja menengah kebawah yang memenuhi kriteria dengan perbandingan berdasarkan daerah. Dengan melihat jumlah pekerja dari yang terkecil hingga yang terbesar maka perbandinganya secara berturut-turut untuk karyawan, Buruh, dan pekerja menengah kebawah adalah sebesar 1 : 2 :  3. Jadi responden karyawan sejumlah 40 responden, responden buruh sejumlah 70 responden, dan responden pekerja menengah kebawah sebanyak  130 responden.

~Hasil Perhitungan

gaji pokok rata-rata karyawan Rp.2.750.000
gaji pokok rata-rata Buruh Rp.1.525.000
gaji pokok rata-rata pekerja menengah kebawah Rp.800.000
perhitungan menunjukan bahwa sebanyak 87% dari jumlah sampel (terdiri dari karyawan, buruh, dan pekerja menengah kebawah) terkena dampak yang besar akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, sebagian besar dari mereka harus membatasi pembelian akan kebutuhan untuk hidup, sehinggap tetap berkecukupan untuk jangka waktu minimum 1 bulan, sedangkan 13% dari sisa sampel menunjukan bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok tiudak terlalu berpengaruh, dan rata-rata dari mereka adalah karyawan yang belum berkeluarga, sehingga penghasilan yang mereka dapat masih tergolong lebih atau cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.


~Analisis

Hasil analisis menunjukan bahwa Peningkatan Harga kebutuhan pokok berpengaruh negative bagi sebagian besar orang, sehingga menghambat proses pemenuhan kebutuhan hidup mereka, dan hanya sebagian kecil orang saja yang merasakan bahwa peningkatan harga kebutuhan pokok tidak terlalu berpengaruh bagi kehidupan mereka.jika terjadi terus menerus maka dapat di pastikan akan banyak terjadi kemiskinan absolut di indonesia.


BAB V

KESIMPULAN

~Intisari Analisis
Endang Herdiyati (2010) "Semua bahan kebutuhan pokok naik mulai dari beras, daging sampai bawang merah. Oleh karena itu, harus memperketat pengeluaran anggaran," tampak jelas bahwa dampak kenaikan harga pokok sangat berpengaruh secara signifikan bagi sebagian besar orang, dan dapat mengubah pola hidup manusia apabila terjadi secara terus menerus, dan dapat dipastikan bila fenomena ini terjadi dan terus meningkat maka masyarakat indonesia akan mengalami krisis yang lebih parah lagi.

~Saran dan rekomendasi

Sebaiknya dalam urusan ini pemerintah tidak lagi bertindak lambat, melainkan harus berindak secara cepat dalam mengambil keputusan atau solusi terbaik, karena dampak kenaikan harga kebutuhan pokok bukan lagi menjadi sesuatu hal yang asing di indonesia, sudah terlalu banyak masyarakat yang terkena dampaknya, dan dapat kita lihat dimana-mana terjadi kelaparan dan krisis akan kebutuhan pokok.
 

~Kekurangan/kelemahan

hasil penelitian menunjukan bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok sebelumnya belum menunjukan dampak secara signifikan bagi masyarakat menengah keatas, karena lebih banyak membahas tentang kehidupan di daerah-daerah tertentu saja, dan lebih berfokus pada masyarkat menengah kebawah.


~usulan/Rekomendasi riset selanjutnya

Usulan / rekomendasi untuk penelitian berikutnya agar mengkaji masyarakat dengan taraf ekonomi menengah keatas juga, agar didapat hasil yang lebih baik mengenai dampak kenaikan harga kebutuhan pokok bagi masyarakat luas.
 
 
 
 
 
Nama : Nicholas.c
Kelas  : 3EA11
NPM   : 16209181
Tugas Ini Di Berikan Oleh Bapak Prihantoro

Selasa, 01 November 2011

JURNAL ILMIAH

BAB III
Data dan Sampel


Objek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah para pekerja  yang berada di wilayah kota jakarta.Alasan penulis memilih daerah jakarta adalah karena jumlah populasinya yang cukup padat dan mudah untuk diteliti.

Metode Pengumpulan Data
Data yang di gunakan untuk penulisan jurnal ini adalah data data sekunder. data sekunder di peroleh dari studi pustaka, buku-buku literatur, majalah serta laporan penelitian yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian ini.



Metode Penentuan Sampel
Pemilihan sampel dalam penelitian pendahuluan dilakukan dengan menggunakan purposive sampling, agar hasil penelitian sesuai dengan tujuan penelitian. Agar responden yang terpilih memiliki kesamaan persepsi maka perlu diberikan batasan, diantaranya:
 1. Responden berada berusia produktif 21 – 45 tahun, dengan asumsi dalam usia produktif, responden memiliki kemampuan dan keputusan sendiri dalam memenuhi kebutuhan pokoknya.
2. Responden memiliki penghasilan
3. Responden berbelanja kebutuhan pokok rutin setiap bulannya
4. Responden berdomilisi di DKI Jakarta.
Sampel diambil secara acak dari populasi di daerah jakarta, yang sebagian besar adalah karyawan, buruh dan pekerja menengah kebawah.yang masing-masing pendapatan rata-ratanya adalah sebagai berikut:
Karyawan : Rp.2.750.000
Buruh : Rp.1.525.000
pekerja menengah kebawah : Rp.800.000

melalui sampel ini sudah dianggap mewakili dari seluruh populasi yang ada.Sampel dipilih secara acak sederhana (simple random sampling).
Variabel dan Indikator
Salah sau faktor yang menentukan pembelian di masyarakat adalah harga kebutuhan 
pokok itu sendiri, karena setiap orang memiliki pendapatan yang berbeda-beda dan pola hidup yan berbeda.
Bentuk Pembelian atau permintaan suatu barang di bagi menjadi 3 jenis:
1. harga
Ketika bentuk permintaan suatu barang berdasarkan harga, maka perubahan 
kecil dalam   harga barang tersebut akan mengakibatkan perubahan total 
penerimaan yang relatif lebih besar. 
Sebagai contoh, perusahaan melakukan kebijakan penurunan harga produknya. 
Jika bentuk permintaan produk tersebut adalah elastis berarti konsumen sangat 
responsif terhadap perubahan harga. Penurunan harga walaupun kecil 
akan direspon oleh konsumen dengan membeli barang tersebut dalam jumlah 
yang relatif banyak. Dengan bentuk permintaan yang elastis,maka keputusan 
produsen untuk menurunkan harga produknya, 
akan potensial meningkatkan total penerimaan.
2.jumlah kebutuhan
berdasarkan jumlah  kebutuhan yang harus dipenuhi, perubahan harga hanya 
memberikan  pengaruh yang kecil terhadap perubahan barang yang diminta, 
sehingga apabila produsen menetapkan kenaikan harga yang cukup tinggi sekalipun, 
permintaan terhadap barang tersebut tidak terlalu berubah. Pada kondisi ini, 
produsen dapat memperolehtambahan penerimaan dengan menaikkan harga.

 
3.Permintaan Elastis Uniter
Apabila permintaan suatu barang adalah elastis uniter maka kenaikan (penurunan) 
harga akan direspon secara proporsional dengan penurunan (peningkatan) 
jumlah yang diminta. Oleh karena itu, baik produsen melakukan peningkatan 
atau penurunan harga, jika elastisitas 
barang adalah elastis uniter maka total penerimaannya konstan.Dengan
kata lain, peningkatan ataupun penurunan harga tidak merubah total penerimaan
produsen.
Model Penelitian



 Sumber :
http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=2&ved=0CCMQFjAB&url=http%3A%2F%2Fpuslit2.petra.ac.id
http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=4&ved=0CDEQFjAD&url=http%3A%2F%2
http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=8&ved=0CEsQFjAH&url=http%3A%2F%2Fejournal.unud.ac.id
Nama : Nicholas.c
Kelas  : 3EA11
NPM   : 16209181
Tugas Ini Di Berikan Oleh Bapak Prihantoro

Selasa, 25 Oktober 2011

JURNAL ILMIAH

Judul : Pengaruh perubahan harga kebutuhan pokok terhadap tingkat pembelian masyarakat

Pengarang : Nicholas.C

Tema : Harga kebutuhan pokok

BAB II
LANDASAN TEORI

Teori dan Konsep Dasar

1.1 Kebutuhan Pokok
Kebutuhan pokok manusia pada dasarnya dibagi menjadi 3 jenis yaitu :
- Sandang:
Sandang mulai muncul sejak peradaban ada. Awalnya sandang merupakan penutup badan untuk mengatasi, angin, hujan, kesopanan dan kesehatan. Kebutuhan akan sandang bervariasi tergantung tingkat sosial dan taste masing-masing orang. Ada yang 1 tahun pun sama sekali tidak membeli baju baru, ada yang tiap tampil membeli baju baru atau secara berkala membeli baju. Secara umum kebutuhan baju berkisar Rp. 200.000 sampai Rp. 2.000.000 per tahun atau sekitar Rp. 20.000 sampai Rp. 200.000 per bulan.
Ada cara-cara tertentu untuk menghemat pembelian sandang, diantaranya :
  • Menjahitkan baju sehingga biaya lebih hemat
  • Mengurangi frekuensi pembeliaan sandang ataupun beli jika sangat dibutuhkan
  • Menurunkan kualitas sandang yang dibeli, sehubungan produsen sudah mempunyai segmentasi masing-masing
  • dan lain-lain
Seperti halnya pangan, sandang untuk golongan menengah ke atas sudah menjadi gaya hidup. Tiap orang mempunyai style atau gaya berpakaian tertentu tergantung kedalaman pemahaman akan gaya berpakaian, budget untuk sandang, dan aliran/pandangan tentang berpakaian.
 -Pangan :
Pangan atau kebutuhan makan adalah hal yang suka tidak suka, mau tidak mau harus dipenuhi karena jika tidak akan menyebabkan sakit atau bahkan bisa meninggal. Kebutuhan pangan berkisar antara Rp. 15.000 sampai RP. 75.000 per hari per orang. (Rp. 450.000 sampai Rp. 2.250.000 per bulan per orang.)
Ada berbagai macam cara untuk menghemat atau menikmati makan dengan budget pas-pas atau kurang, diantaranya :
  • Menurunkan atau subtitusi (penggantian) menu makan
  • Mengurangi frekuensi makan dari semula 3 kali sehari menjadi 2 kali sehari.
  • Mencari tempat makan yang lebih murah
  • dan lain-lain
Untuk mendapatkan pangan saat ini mulai menjadi gaya hidup atau life style. Sehubungan ada jenis makanan yang beragam di antara daerah dan unik per restoran/rumah makan, wisata kuliner digali sebagai salah satu nilai jual untuk bidang wisata baik untuk wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara. Anda tentu meneteskan liur jika disebutkan makanan berikut : siomay, baso, ruja bebek, nasi goreng gila, gudeg, sate padang, sate madura, soto betawi, konro, soto banjar, bakpia, dan lain sebagainya. Life style dengan wisata kuliner tetap menjadi trendsetter saat ini dan di masa yang akan datang.
 -Papan :
Papan adalah tempat berteduh dari panas, hujan dan dahulu dari hewan liar. Saat ini papan lebih banyak untuk berteduh, bercengkerama dengan keluarga, istirahat dan investasi dalam aset tetap. Untuk pekerja pengeluaran untuk papan baik menyewa ataupun cicilan perumahan berkisar antara Rp. 300.000 sampai Rp. 3.000.000 per bulan.
Ada cara-cara tertentu dan pertimbangan rasional dalam menghemat pembelian papan sehingga keputusan untuk membeli adalah tepat, diantaranya :
  • Hitung dengan cermat antara pilihan menyewa dan mencicil rumah yang memperhitungkan ongkos transportasi dan tingkat ke-cape-an
  • Pilihan terbaik sebenarnya sejak saat ini atau sejak awal memiliki rumah, meski harus mencicil. Sewa adalah pos pada biaya yang tidak akan kembali, mencicil rumah adalah bentuk investasi pada aset. Statistik menunjukkan hampir tidak pernah di Indonesia harga tanah/rumah turun, sehingga investasi pada rumah pakan cepat makin baik.
  • Tidak ada diciptakan tanah baru, tetapi populasi manusia semakin bertambah dengan demikian harga tanah atau rumah cenderung tetap naik.
  • Setelah kecukupan pangan dan sandang secara sederhana tahap berikut sebaiknya membeli papan/rumah dibandingkan dengan alat transportasi. Pembelian alat transportasi cukup ekonomis jika biaya perjalanan harian/bulanan dengan kendaraan umum lebih tinggi dari cicilan motor/mobil.
  • Meski kemampuan dimulai dari luas tanah yang kecil, namun memang  lebih baik dimulai beli rumah sejak awal sekali.
Indikator/ Tolak Ukur :

a).Harga & pendapatan masyarakat
b).Jenis Kebutuhan / Jumlah kebutuhan
c).Permintaan Elastis Uniter

1.2 Peningkatan harga kebutuhan pokok mempengaruhi keputusan seseorang dalam memenuhi kebutuhan pokoknya

Sperti yang tertera pada penjelasan sebelumnya, harga sangatlah menentukan seseorang dalam memenuhi kebutuhannya sehari - hari. apabila seseorang menilai harga suatu barang yang biasa dia konsumsi naik atau meningkat, dia pasti akan berpikir dua kali, sebelum membelinya, bila ada barang pengganti yang lebih murah namun kualitas tidak jauh berbeda pasti dia akan memilih barang tersebut, karena di era sekarang ini bila kita tidak cermat dalam hal memenuhi kebutuhan dan keungan, maka akan berakibat fatal bagi diri kita sendiri.

Tinjauan Riset Terdahulu

jika di lihat dari segi kebutuhan, manusia memiliki 3 kebutuhan pokok yaitu sandang, pangan, papan.
dalam rangka memenuhi kebutuhannya tersebut masyarakat tidak bisa hanya mengikuti kemauan hawa nafsu semata namun, harus melihat juga harga kebutuhan pokok yang kian meningkat selama ini.(prabowo,2010)

di era globalisasi ini banyak manusia yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pokoknya secara utuh lagi, itu dikarenakan peningkatan harga kebutuhan pokok yang terus menerus, membuat orang-orang menjadi susah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari
(Puji Suharjoko,2010)

Kenaikan harga  kebutuhan pokok biasanya terjadi akibat tingginya permintaaan, sementara pasokan barang kebutuhan pokok dalam jumlah yang tetap seperti hari biasa. Kondisi ini membuat beberapa komoditi pokok mengalami kenaikan yang cukup signifikan. (Ibnu,2009)

Pengembangan Hipotesis

berdasarkan tinjauan dari riset terdahulu, dapat dikemukakan hipotesis sebagai berikut ini:

H1: Harga kebutuhan pokok yang meningkat membuat pola hidup masyarakat berubah.
H2: Peningkatan Harga kebutuhan pokok dipengaruhi oleh banyaknya permintaan akan kebutuhan itu sendiri.

H3: Tingkat pemenuhan kebutuhan tergantung dari harga kebutuhan pokok itu seniri.

Minggu, 09 Oktober 2011

Jurnal Ilmiah

Judul : Pengaruh Perubahan Harga Kebutuhan Pokok Terhadap Tingkat Pembelian Masyarakat

Pengarang : Nicholas.c


Tema : Harga Kebutuhan Pokok

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Beberapa saat ini Kita terus menyaksikan harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Minyak goreng mencapai harga diatas puluhan ribu rupiah di pasaran. Meskipun sempat mengalami penurunan, akan tetapi kembali melambung tinggi.
Selain minyak goreng beberapa bahan kebutuhan pokok juga mengalami kenaikan, padahal bahan-bahan tersebut merupakan konsumsi kebanyakan masyarakat. Misalnya harga kedelai yang menyebabkan langka dan mahalnya harga tahu dan tempe, harga tepung dan lain sebagainya. Kenaikan harga beberapa barang kebutuhan pokok tersebut menjadi lengkap membebani masyarakat kecil ketika pada saat yang sama minyak tanah juga mahal dan sulit didapat. Sementara program konversi minyak tanah ke gas elpiji yang menjadi program pemerintah belum sepenuhnya berjalan, belum lagi beberapa persoalan yang ditimbulkan dalam pelaksaaannya di lapangan.
Melambungnya harga kebutuhan pokok menyebabkan masyarakat dihadapkan pada persoalan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Apalagi pendapatan tidak mampu mengimbangi kebutuhan yang harus di penuhi. Beberapa industri kecil skala rumah tangga juga terpaksa gulung tikar dan tutup. Bagaimana tidak, beberapa industri rumah tangga seperti industri tahu dan tempe, industri kerupuk hingga penjual gorengan, untuk mendapatkan bahan bakunya saja mereka sudah kehabisan modal, belum lagi untuk membeli minyak tanah dan minyak goreng yang harganya tak terjangkau. Beberapa industri yang masih berjalanpun terpaksa mengurangi jumlah produksinya meskipun mereka harus merugi karena tidak bisa menaikkan harga jual. Dalih karena hal itu sudah menjadi pekerjaanlah yang membuat mereka tetap bertahan untuk melakukan pekerjaan itu, selain memang tidak ada pilihan usaha dan pekerjaan lain yang akan dilakukan.

Penelitian Terdahulu
Blakasuta, Arjawinangun (2008), peningkatan harga kebutuhan pokok bisa berdampak buruk bagi masyarakat, terutama masyarakat kecil, oleh karena itu pentingnya peran pemerintah dalam hal ini, yang bukanl lagi menjadi fenomena asing dalam kehidupan masyarkat indonesia.
Motivasi Penelitian
Banyaknya masalah yang timbul dimasyarakat akibat harga kebutuhan pokok yang terkadang naik dan turun,itulah yang membuat peneliti tertarik untuk meneliti kejadian yang terjadi dimasyarakat luas ini dan ingin mengetahui apa saja dampak yang ditimbulkan akibat perubahan harga kebutuhan pokok yang tidak menentu ini.

Tujuan Penelitian 
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja Pengaruh perubahan harga kebutuhan pokok bagi kehidupan masyarakat,yang dapat di rincikan sebagai berikut :
1.Menganalisis Faktor-faktor yang membuat harga kebutuhan pokok menjadi meningkat atau naik
2.Mengetahui dampak apa yang akan terjadi dimasyarakat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok
3.Mencari Solusi yang tepat untuk masalah ini



Sumber : http://organisasi.org/kebutuhan_hidup_ekonomi_manusia_kebutuhan_primer_sekunder_tersier_jasmani_rohani_sekarang_masa_depan_pribadi_dan_sosial


Nama  : Nicholas Caesar .A.S.H
Kelas :  3EA11
NPM    : 16209181
Dosen : PRIHANTORO

Sabtu, 01 Oktober 2011

METODE RISET (ANALISIS JURNAL) Pertemuan ke-2

Review 3 jurnal. Temanya adalah Produksi Gula dan Pengaruh Gula Impor

  • Judul,Nama pengarang, tahun.
  1. Analisa Pemberlakuan Tarif Gula di Indonesia, Lily Koesuma Widiastuty, 2001
  2. Analisis Kebijakan Industri Gula Indonesia, Wayan R. Susila1 dan Bonar M. Sinaga, 1991-2001
  3. Efesiensi Unit- unit Kegiatan Ekonomi Industri Gula di Indonesia, Victor Siagian, 2001

  • latar belakang masalah
  a). Fenomena
  1. Walaupun Indonesia memiliki banyak
    pabrik gula, namun kapasitas produksinya ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan
    konsumsi gula nasional yang mencapai 2.6 juta ton per tahunnya. Konsumsi gula nasional
    mencapai 13.52 kg per kapita pada tahun 1993, dan terus meningkat menjadi 16.69 kg
    pada tahun 1998. Padahal selama 4 tahun (1993-1996) ternyata produksi gula menurun.
    Kecuali tahun 1991 sampai 1993 terjadi peningkatan produksi dari 2.25 juta menjadi 2.48
    juta ton. Produksi gula Indonesia terus menurun dan sampai titik terendah tahun 1995
    yaitu 2.092 juta ton atau penurunan 14.75% dari tahun sebelumnya. (Usahawan No.09 Th
    XXVI September 1997).
  2. Pada periode 1991-2001, industri gula Indonesia mulai menghadapi
    berbagai masalah yang signifikan. Salah satu indikator masalah industri gula
    Indonesia adalah kecenderungan volume impor yang terus meningkat dengan
    laju 16,6 persen per tahun pada periode tersebut. Hal ini terjadi karena ketika
    konsumsi terus meningkat dengan laju 2,96 persen per tahun, produksi gula
    dalam negeri menurun dengan laju 3,03 persen per tahun. Pada lima tahun
    1997-2002, produksi gula bahkan mengalami penurunan dengan laju 6,14
    persen per tahun (Dewan Gula Indonesia, 2002).
  3. Menurut Statistik Impor, Badan Pusat Statistik 2000, pasokan gula dunia akan
    semakin terbatas pada sejumlah kecil negara. Kondisi ini dapat menjadi rawan bila
    ketergantungan impor gula Indonesia dalam jumlah besar. Kecenderungan ini hendaknya
    dapat menstimulir untuk meningkatkan produksi gula nasional melalui upaya perbaikan
    produktivitas dan efisiensi dengan sasaran kemandirian dan peningkatan daya saing industri
    gula nasional dengan prioritas utama pemenuhan kebutuhan gula di dalam negeri.
    Victor Siagian,
b). Penelitian Sebelumnya

  1. Dibandingkan negara penghasil gula lainnya, Indonesia termasuk yang terbelakang.
    Pabrik-pabrik gula yang ada di negara-negara produsen gula selain Indonesia lebih efisien
    daripada pabrik gula lokal.(Surya, 25 Agustus 1999).
  2. produksi gula bahkan mengalami penurunan dengan laju 6,14
    persen per tahun (Dewan Gula Indonesia, 2002)
  3. Produksi gula nasional semakin menurun selama beberapa tahun terakhir. Produksi
    gula nasional pernah meningkat relatif cepat dalam periode 1980-an, akan tetapi lambat sekali
    dalam periode awal 1990-an, dan setelah tahun 1994 produksi gula nasional terus menurun.
    Peningkatan produksi gula adalah disebabkan oleh perluasan areal tanaman tebu, bukan
    disebabkan oleh peningkatan produktivitas(Serketariat Dewan Gula, 2001)
c). Motivasi Penelitian
  1. memberikan pengetahuan tentang Berapa tingkat tarif gula impor yang paling optimal supaya tidak merugikan produsen
    dan konsumen
  2. Untuk mengetahui Berapa nilai yang hilang dengan adanya penerapan tarif
  3. untuk mengevaluasi dan merumuskan beberapa alternatif kebijakan
    pemerintah yang efektif guna meningkatkan kinerja industri gula Indonesia.
  • Tujuan Penelitian
  1. Apa pengaruh tarif impor atas gula pada kesejahteraan konsumen, produsen, serta
    penerimaan pemerintah bila ditinjau dari analisa surplus konsumen dan surplus
    produsen? 
  2. Berapa tingkat tarif gula impor yang paling optimal supaya tidak merugikan produsen
    dan konsumen?
  3. Berapa nilai yang hilang dengan adanya penerapan tarif?
  • Metode Penelitian
-Data dan sampel
  1.  Penelitian ini meneliti tentang model permintaan dan penawaran gula dan
    keseimbangan harga gula pada waktu dikenakan tarif impor. Variabel-variabel yang mempengaruhi penawaran antara lain adalah : produksi gula; harga produsen gula; harga
    produsen barang substitusi, dalam hal ini beras; dan luas panen tebu. Data-data yang digunakan di sini sebagaian besar berasal dari Biro Pusat Statistik dan
    Dinas Perkebunan Jawa Timur.
  2. Kerangka Berfikir dan Model Ekonometrik Pasar Gula Indonesia
    Kebijakan yang dinalisis dalam penelitian ini mencakup kebijakan produksi,harga, dan perdagangan. Untuk kebijakan produksi, analisis difokuskan pada kebijakan subsidi input, khususnya subsidi pupuk. Untuk aspek ini, kerangka berfikir yang digunakan adalah teori produksi. Analisi kebijakan harga yang dalam hal ini dikenal sebagai kebijakan jaminan harga (harga provenue),menggunakan kerangka teori harga dasar. Kebijakan perdagangan difokuskan pada analisis kebijakan tarif impor dan tariff-rate quota (TRQ), sehingga kerangka teoritis yang digunakan berdasarkan teori tarif impor dan TRQ.
  3. Data diperoleh dari Pusat Penelitian Industri Gula (P3GI). Asosiasi Gula Indonesia
    (AGI), Dewan Gula Indonesia (DGI), Kantor Menteri Negara Pendayagunaan Badan Usaha
    Milik Negara dan Badan Urusan Logistik, sebagai data sekunder. Data mengenai input –
    output pabrik gula yang menggunakan proses karbonatasi tahun 2002.
- Variabel
  1. variabel pada Jurnal 1
    No  Variabel   Definisi   Satuan    Sumber Data
    A Permintaan
    1 Konsumsi gula Jumlah gula yang dikonsumsi
    oleh rumah tangga pada tahun
    ke-t
    kg/kapita Neraca bahan makanan,
    FO. Light
    2 Harga konsumen gula Harga riil gula eceran pada
    tahun ke-t
    Rp/kg Statistik harga
    konsumen
    3 Harga konsumen kopi Harga riil kopi eceran pada
    tahun ke-t
    Rp/kg Statistik harga
    konsumen
    4 GDP/kapita Jumlah pendapatan nasional
    harga konstan pada tahun ke-t
    per penduduk
    Juta Rupiah Statistik Indonesia
    B Penawaran
    5 Produksi gula Jumlah gula yang diproduksi
    dalam negeri pada tahun ke-t
    Ribu ton Dinas perkebunan
    Jatim, Statistik
    Perkebunan besar, FO
    Light.
    6 Harga produsen gula Harga riil grosir gula pada tahun
    ke-t
    Rp/kg Statistik harga produsen
    7 Harga produsen beras Harga riil grosir beras pada
    tahunke-t
    Rp/kg Statistik harga produsen
    8 Luas panen tebu Luas panen tebu pada tahunke-t 100000Ha Dinas Perkebunan
    Jatim, Statistik
    Perkebunan besar, FO
    Light.
  2. Variabel Jurnal ke 2
    Persamaan areal tebu dibedakan menjadi tiga yaitu areal tebu perkebunan
    negara atau PTPN (GECSA), areal perkebunan besar swasta (PECSA),
    tebu untuk rakyat (SHCSA), sedangkan areal total (INCSA) merupakan
    penjumlahan dari ketiga areal tersebut (persamaan 1-4).
    GECSAt = a0 + a1PROVPt+ a2 INFLPt + a3INIRt + a4SHCSAt +
    a5GECSAt-1 + e1.................................................................
    PECSAt = b0 + b1INCSPt + b2INFLPt + b3INIRt + b4PECSAt-1 + e2..
    SHCSAt = c0 + c1PROVPt + c2 INRCPt + c3 INFLPt + c4 SINIR + c5
    TRIt + c6D92t + c7 SHCSAt-1 + e3 ..................................
    INCSAt = GECSAt + PECSAt + SHCSAt ………………………………
    dimana:
    GECSA = Luas areal perkebunan tebu negara
    PECSA = Luas areal perkebunan tebu swasta
    SHCSA = Luas areal perkebunan tebu rakyat
    INCSA = Total luas areal perkebunan gula Indonesia
    INCSP = Harga eceran gula
    INFLP = Harga pupuk
    INIR = Tingkat suku bunga
    D92 = Dummy penerapan UU budidaya tanaman
    TRI = Dummy penerapan kebijakan pemerintah mengenai TRI
    SINIR = Tingkat suku bunga untuk peserta TRI
    PROVP = Harga di tingkat petani/PG
    INRCP = Harga dasar gabah
    Subskrip t-1 pada setiap akhir variabel menyatakan lag waktu satu tahun
    Mengenai penggunaan t dalam model ini, t tepatnya lebih merepresentasikan
    tahun tanam (April-Maret). Oleh karena itu, persamaan areal
    (SH,GE, PS), masih sesuai menggunakan waktu t. Sebenarnya pada tahap
    awal, model dispesifikasi menggunakan waktu t-1 untuk persamaan tersebut,
    tetapi hasil estimasi kurang memadai, baik dari sisi teori ekonomi produksi
    maupun kriteria statistik (t-statistik, R2, dan tanda koefisien).
  3. variabel jurnal ke 3

    Variabel-variabel yang digunakan dalam kajian efesiensi relatif antar pabrik-pabrik

    gula yang menggunakan proses karbonatasi yaitu:
    1. Komponen Input
    a. Jumlah tebu giling (X1, ton)
    b. Biaya tebu giling ( CX1, 1000Rp)
    c. Jumlah bahan bakar (X2, kg)
    d. Biaya bahan bakar (CX2, 1000Rp)
    e. Jumlah Tenaga kerja (X3, orang)
    f. Biaya tenaga kerja (CX3, 1000Rp)
    g. Biaya Management (Z1, 1000Rp)
    h. Biaya Penyusutan (Z2, 1000Rp)
    2. Komponen Output
    a. Produksi Gula (Q1, ton)
    b. Penerimaan gula (TRQ1, 1000Rp)
    c. Produksi Tetes (Q2, ton)
    d. Penerimaan tetes (TRQ2, 1000Rp)
-Tahapan Penelitian
  1. Jurnal ke-1 :
    Karena pengaruh tarif impor, keseimbangan penawaran dan
    permintan berubah karena tarif menyebabkan harga gula menjadi lebih mahal dan jumlah
    gula yang ditawarkan oleh produsen lokal meningkat dan impor gula menurun. Perubahan
    harga gula menyebabkan perubahan pada surplus konsumen dan surplus produsen pula.
    Surplus konsumen menurun karena kini konsumen harus membayar dengan harga yang
    lebih mahal. Surplus produsen meningkat karena produsen bisa menjual dengan harga
    lebih tinggi .
  2. Jurnal ke-2 :
    1. Skenario TRQ berbasis 1 juta ton, tarif rendah 25 persen, tarif tinggi 50
    persen (Skenario TRQ).
    2. Harga provenue Rp. 3400/kg dan harga dasar gabah Rp. 1750/kg (Skenario
    Provenue + HDG);
    3. Tarif impor 50 persen dan harga dasar gabah Rp. 1750/kg (Skenario TI +
    HDG);
    4. Harga provenue Rp. 3400/kg, TRQ berbasis 1 juta ton, dan harga dasar
    gabah Rp. 1750/kg (Skenario Provenue + TRQ + HDG);
    5. Harga provenue Rp. 3400/kg, subsidi pupuk 20 persen, harga dasar gabah
    Rp. 1750/kg (Skenario Provenue + SI + HDG);
    6. Tarif impor 50 persen, subsidi pupuk 20 persen, dan harga dasar gabah Rp.
    1750/kg (Skenario TI + SI + HDG);
  3. Jurnal ke-3 :
    kendala utama yang dihadapi
    pabrik gula saat ini adalah : (1) rendahnya kualitas bahan baku, (2) rendahnya kapasitas
    sebagian pabrik serta rendahnya efisiensi pabrik (tingginya jam berhenti dan (3) tingginya
    biaya produksi.

-Model Penelitian
  1. Jurnal ke-1:
    LogQd t = bo + b1LogPkt + b2LogPkct + b3LogYt
    dimana:
    Qt
    d = konsumsi gula pada tahun t
    pkt = harga konsumsi gula pada tahun t
    Pkct = harga konsumsi kopi pada tahun t
    Yt = pendapatan (GDP) perkapita di Indonesia pada tahun t
    S = Qs
    t + I
    Fungsi produksi juga diturunkan dari fungsi Cobb-Douglas, yaitu sebagai berikut:
    LogQs
    t = bo + b1LogPkt + b2LogPpt + b3LogLUASt
    dimana:
    Qt
    s = produksi gula pada tahun t
    Pkt = harga produsen gula pada tahun t
    Ppt = harga produsen beras pada tahun t
    LUASt = luas panen tebu pada tahun t

    Hasil :

 











     2.Jurnal ke-2:


GECSQt = d0 + d1GECSAt -1+ d2PROVPt + d3INFLPt + d4CHt +
d5CH2t + d6T + d7GECSYt-1 + e4
PECSQt = f0 + f1 PECSAt-1 + f2 INCSPt + f3INFLPt + f4CHt + f5CH2t
+ f6T + f7PECSYt-1 + e5
SHCSQt = g0 + g1SHCSAt-1 + g2PROVPt + g3 INFLPt + g4TRIt +
g5CHt + g6 CH2t + g7T + g8SHCSYt-1) + e6
INCSQt = HCSQt + GECSQt+ PECSQt
dimana:
GECSQ = Produksi gula perkebunan negara
PECSQ = Produksi gula perkebunan swasta
SHCSQ = Produksi gula perkebunan rakyat
INCSQ = Total produksi gula Indonesia
T = Trend waktu
CH; CH2 = Curah hujan
INCSCt = h0 + h1INCSPt + h2INPDBt + h3INNt +
h4INCSCt-1 + e7
dimana:
INCSC = Konsumsi gula Indonesia
INCSP = Harga domestik gula Indonesia
INPDB = Produk domestik bruto
INN = Jumlah penduduk Indonesia
INCSSt = i0 + i1INCSQt + i2D74t + i3D81t + i4 INCSSt-1 + i5INCSP +
i6INIR + e8
INCSMt = INCSCt + INCSSt – INCSQt - INCSSt-1
dimana :
INCSS = Stok gula Indonesia
INCSM = Impor gula Indonesia
D74 = Dummy kebijakan pemerintah mengenai penguasaan,
pengawasan, dan penyaluran gula pasir non PTPN
D81 = Dummy kebijakan pemerintah mengenai tataniaga gula pasir
dalam negeri
INCSS = Stok gula Indonesia
Sebagai negara kecil dalam perdagangan gula dunia dengan pangsa
impor sekitar 3,57 persen dari impor gula dunia, maka Indonesia pada dasarnya
bersifat sebagai price taker. Dengan demikian, harga gula di pasar eceran
diduga dipengaruhi oleh harga gula di pasar internasional serta berbagai
kebijakan domestik (persamaan 12).
INCSPt = j0 + j1PROVPt + j2INMCSPt + j3D71t + j4D81t + e9
PROVP = k0 + k1INCSPt + k2INIFCt + k3INFLPt + e10
dimana:
INCSP = Harga eceran gula Indonesia
PROVP = Harga provenue gula
WDCSP = Harga gula pasir dunia
INER = Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat
INMTAX = Pajak impor gula yang diterapkan oleh pemerintah
INMCSP = (WDCSP*INER)(100+INMTAX)/100
D87 = Dummy kebijakan penetapan harga gula pasir produksi
dalam negeri dan impor
































































    3. Jurnal ke-3 : 

 
Hasil :


 -Hasil dan Analisis
  1. Jurnal ke- 1 : Dalam Tabel, tercantum deskripsi data variabel yang berpengaruh terhadap
    permintaan dan produksi gula di Indonesia selama 16 tahun, dari tahun 1983-1998. Data
    selengkapnya dilaporkan di Wdidastuty, 2000. Rata-rata, semua variabel cenderung
    meningkat dari tahun ke tahun, kecuali harga riil konsumen dan produsen untuk gula,
    serta luas panen tebu dan produksi gula. GDP naik setiap tahun kecuali tahun 1998, di
    mana GDP per capita mengalami penurunan sebesar 13% akibat krisis moneter.
    Nilai riil untuk harga gula (konsumen dan produsen), GDP, harga beras dan harga
    kopi digunakan daripada nilai nominal oleh karena nilai riil tidak mengandung unsur
    inflasi dan menunjukkan perubahan harga dan GDP yang sebenarnya.
  2. Jurnal ke- 2 : Dengan tingkat signifikansi yang berbeda, ada tujuh variabel yang
    secara signifikan berpengaruh terhadap areal tebu PTPN yaitu harga gula
    tingkat petani, harga pupuk, areal perkebunan rakyat, kebijakan pemerintah
    tentang pengadaan dan pemasaran gula tahun 1971, kebijakan tataniaga gula
    tahun 1981, kebijakan penetapan harga gula tahun 1987 (Tabel 1). Tingkat
    suku bunga (INIR) ternyata tidak berpengaruh terhadap kebijakan areal PTPN.
    Hal ini disebabkan sejak tahun 1990-an PTPN kesulitan meminjam dana dari
    perbankan sehingga sebagai dana hanya menggunakan dana sendiri. Secara
    keseluruhan, variabel-variabel penjelas tersebut (explanatory variables) mampu
    menerangkan sekitar 78 persen keragaman areal tebu PTPN.
  3. Jurnal ke- 3 : Rasio biaya dengan penerimaan untuk seluruh pabrik gula dapat dilihat pada Tabel 2.
    Dari 5 pabrik gula yang menggunakan proses karbonatasi terlihat bahwa 2 pabrik gula
    yang memiliki tingkat rasio paling rendah adalah Sweet Indo Lampung dan Indo Lampung
    Perkasa. Kedua pabrik gula tersebut diduga memiliki tingkat efisiensi paling tinggi.
    Sedangkan 3 pabrik gula yang memiliki tingkat rasio paling tinggi adalah Tasik Madu,
    Gondang Baru dan Rejoagung Baru. Ketiga pabrik gula tersebut diduga memiliki tingkat
    efisiensi paling rendah.

-Implikasi
  1. Jurnal ke- 1: Tebu terbukti bukan tanaman yang efisien dan menguntungkan. Beberapa penelitian oleh Llewelyn (1996), Rosegrant (1987), Tabor (1992) dan Gonzales (1993) menunjukkan bahwa profit yang dihasilkan oleh tebu relatif kecil dibandingkan dengan keuntungan yang didapat apabila petani menanam padi dan kedelai, walaupun pemerintah ikut campur tangan dalam industri gula. Jadi, pemerintah lebih baik mengimpor gula saja, dan mengalihkan lahan tebu untuk ditanami dengan tanaman lain yang lebih menguntungkan bagi petani.Jka pemerintah tetap ingin mempertahankan industri gula, maka pemerintah harus berupaya menambah investasi pada industri gula, sehingga industri ini dapat lebih efisien. Atau pemerintah dapat mengalihkan lahan tebu ke luar Jawa yang lebih luas.
  2. Jurnal ke- 2 : Jika pemerintah bertujuan agar harga gula dalam negeri murah karena
    gula merupakan kebutuhan pokok dan menutup PG yang biaya produksinya
    diatas harga gula dunia yang distortif, pemerintah dapat menerapkan kebijakan
    ”dukungan minimum” seperti tingkat tarif impor yang minimum (0 - 25%).
  3. Jurnal ke- 3 :
    a). Realokasi penggunaan input untuk pabrik-pabrik gula yang belum efisien agar segera
    dilakukan.
    b). Institusi yang terkait dengan pengelolaan industri gula segera menindaklanjuti upaya
    peningkatan efisiensi pabrik-pabrik gula di Indonesia, khususnya pabrik-pabrik gula yang
    menggunakan proses karbonatasi.




Sumber :http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=2&ved=0CCMQFjAB&url=http%3A%2F%2Fpuslit2.petra.ac.id
http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=4&ved=0CDEQFjAD&url=http%3A%2F%2
http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=8&ved=0CEsQFjAH&url=http%3A%2F%2Fejournal.unud.ac.id
Tugas Ini Di Berikan Oleh Bapak Prihantoro

METODE RISET (ANALISIS JURNAL)

Review 3 jurnal. Temanya adalah Produksi Gula dan Pengaruh Gula Impor

  • Judul,Nama pengarang, tahun.
  1. Analisa Pemberlakuan Tarif Gula di Indonesia, Lily Koesuma Widiastuty, 2001
  2. Analisis Kebijakan Industri Gula Indonesia, Wayan R. Susila1 dan Bonar M. Sinaga, 1991-2001
  3. Efesiensi Unit- unit Kegiatan Ekonomi Industri Gula di Indonesia, Victor Siagian, 2001

  • latar belakang masalah
  a). Fenomena
  1. Walaupun Indonesia memiliki banyak
    pabrik gula, namun kapasitas produksinya ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan
    konsumsi gula nasional yang mencapai 2.6 juta ton per tahunnya. Konsumsi gula nasional
    mencapai 13.52 kg per kapita pada tahun 1993, dan terus meningkat menjadi 16.69 kg
    pada tahun 1998. Padahal selama 4 tahun (1993-1996) ternyata produksi gula menurun.
    Kecuali tahun 1991 sampai 1993 terjadi peningkatan produksi dari 2.25 juta menjadi 2.48
    juta ton. Produksi gula Indonesia terus menurun dan sampai titik terendah tahun 1995
    yaitu 2.092 juta ton atau penurunan 14.75% dari tahun sebelumnya. (Usahawan No.09 Th
    XXVI September 1997).
  2. Pada periode 1991-2001, industri gula Indonesia mulai menghadapi
    berbagai masalah yang signifikan. Salah satu indikator masalah industri gula
    Indonesia adalah kecenderungan volume impor yang terus meningkat dengan
    laju 16,6 persen per tahun pada periode tersebut. Hal ini terjadi karena ketika
    konsumsi terus meningkat dengan laju 2,96 persen per tahun, produksi gula
    dalam negeri menurun dengan laju 3,03 persen per tahun. Pada lima tahun
    1997-2002, produksi gula bahkan mengalami penurunan dengan laju 6,14
    persen per tahun (Dewan Gula Indonesia, 2002).
  3. Produksi gula nasional semakin menurun selama beberapa tahun terakhir. Produksi
    gula nasional pernah meningkat relatif cepat dalam periode 1980-an, akan tetapi lambat sekali
    dalam periode awal 1990-an, dan setelah tahun 1994 produksi gula nasional terus menurun.
    Peningkatan produksi gula adalah disebabkan oleh perluasan areal tanaman tebu, bukan
    disebabkan oleh peningkatan produktivitas (Sekretariat Dewan Gula, 2001).
b). Penelitian Sebelumnya

  1. Dibandingkan negara penghasil gula lainnya, Indonesia termasuk yang terbelakang.
    Pabrik-pabrik gula yang ada di negara-negara produsen gula selain Indonesia lebih efisien
    daripada pabrik gula lokal.(Surya, 25 Agustus 1999).
  2. produksi gula bahkan mengalami penurunan dengan laju 6,14
    persen per tahun (Dewan Gula Indonesia, 2002)
  3. Produksi gula nasional semakin menurun selama beberapa tahun terakhir. Produksi
    gula nasional pernah meningkat relatif cepat dalam periode 1980-an, akan tetapi lambat sekali
    dalam periode awal 1990-an, dan setelah tahun 1994 produksi gula nasional terus menurun.
    Peningkatan produksi gula adalah disebabkan oleh perluasan areal tanaman tebu, bukan
    disebabkan oleh peningkatan produktivitas (Sekretariat Dewan Gula, 2001).
c). Motivasi Penelitian
  1. memberikan pengetahuan tentang Berapa tingkat tarif gula impor yang paling optimal supaya tidak merugikan produsen
    dan konsumen
  2. Untuk mengetahui Berapa nilai yang hilang dengan adanya penerapan tarif
  3. untuk mengevaluasi dan merumuskan beberapa alternatif kebijakan
    pemerintah yang efektif guna meningkatkan kinerja industri gula Indonesia.
  • Tujuan Penelitian
  1. Apa pengaruh tarif impor atas gula pada kesejahteraan konsumen, produsen, serta
    penerimaan pemerintah bila ditinjau dari analisa surplus konsumen dan surplus
    produsen? 
  2. Berapa tingkat tarif gula impor yang paling optimal supaya tidak merugikan produsen
    dan konsumen?
  3. Berapa nilai yang hilang dengan adanya penerapan tarif?
Sumber :http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=2&ved=0CCMQFjAB&url=http%3A%2F%2Fpuslit2.petra.ac.id
http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=4&ved=0CDEQFjAD&url=http%3A%2F%2
http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=8&ved=0CEsQFjAH&url=http%3A%2F%2Fejournal.unud.ac.id
Tugas Ini Di Berikan Oleh Bapak Prihantoro

Kamis, 22 September 2011

METODE RISET (ANALISIS JURNAL)

 ANALISIS JURNAL 1


1.Judul :RISK and RETURN : ANTARA EMAS DAN SAHAM

Nama Pengarang : DARMANSYAH

Tahun :2010

2.Tema : HARGA EMAS

3.Latar Belakang Masalah : latar belakang jurnal ini , menurut beliau, "Meskipun perlu, sebenarnya tidak terlalu penting bagi kita untuk mempelajari terlalu dalam data pergerakan harga emas, kemudian mengambil kesimpulan tentang trend, lalu membuat prediksi-prediksi harga emas di masa datang, apalagi sampai menetapkan teori atasnya. Karena jika niat kita ‘lurus’ hendak menyelamatkan harta, ditambah dengan harapan jangka panjang untuk menaikkan ‘value’ simpanan diri pribadi atau keluarga, maka sesungguhnya tak ada yang namanya ‘waktu yang salah’ untuk mengawali pembelian atau penyimpanan Dinar. Tak ada istilah ‘waktunya kurang tepat’, atau ‘saatnya memborong’ dalam investasi Dinar emas. Apalagi jika kita berinvestasi dalam Dinar emas atau emas pada umumnya dalam kerangka upaya orang, bukan dengan niat komersial. Beda halnya jika Anda menjalankan sebuah usaha yang memperjual-belikan emas, misalnya toko emas atau usaha pemurnian dan pencetakan emas, maka statistik yang menyangkut prediksi harga emas menjadi informasi terpenting bagi bisni."

Fenomena(data statistik/berita) :  
- Kepanikan financial secara global
Menengok sejarah di belakang, krisis global biasanya terjadi dalam skala menengah setiap 5 tahun sekali, dan krisis besar setiap 10 tahun sekali. Jadi kita hidup dalam tekanan-tekanan ekonomi yang membuat daya tahan kesejahteraan dan kemakmuran kita menjadi rentan. Dalam situasi tak pasti ini, harga emas justru naik. Diantara depresi, resesi dan krisis ekonomi yang pernah terjadi adalah Great Depression 1930, krisis local di AS tahun 1970 – 1971, tahun 1980 krisis energi dunia karena harga minyak naik, krisis tahun 1998 yang menyapu sebagian besar negara berkembang, dan terakhir tahun 2008 hantaman krisis kembali menimpa Amerika.
- Situasi Ekonomi
Sekitar 80 persen dari total suplai emas digunakan industri perhiasan. Konsumsi perhiasan merupakan pengaruh yang besar pada sisi permintaan. Ketika kondisi ekonomi meningkat, kebutuhan akan perhiasan cenderung naik. Namun, dari data statistik terlihat kebutuhan akan perhiasan lebih sensitif terhadap naik turunnya harga emas dibanding kan meningkatnya kondisi ekonomi. Jatuhnya tingkat kebutuhan perhiasan pada masa resesi di tahun 1982-1983 terutama akibat naiknya harga emas secara simultan. Jatuhnya tingkat kebutuhan perhiasan di masa resesi awal 90-an lebih selaras dengan hal di atas, pada saat itu harga emas menjadi turun. Situasi ekonomi yang tidak menentu dapat mengakibatkan inflasi tinggi. Emas biasa digunakan sebagai alat lindung nilai terhadap inflasi. Manfaat ini sudah dirasakan investor sejak lama. Dengan emas, investor mendapat perlindungan sempurna terhadap merosotnya daya beli. Ketika tahun 1978-1980 harga emas sedang booming; sementara inflasi di AS naik dari 4 persen menjadi 14 persen, harga emas naik tiga kali lipat. Akan tetapi, sejak saat itu, emas tidak lagi terlalu efektif secara sempurna digunakan sebagai alat lindung nilai terhadap inflasi. Di Indonesia, dari data yang didapat, tingkat inflasi tidak mempengaruhi harga emas. Harga emas lebih banyak dipengaruhi kurs rupiah terhadap dollar.
Penelitian sebelumnya :Sri Pangestuti yang lulus dengan nilai A untuk thesis S-2 nya yang berjudul “Analisis Return LQ45 Dibandingkan Return Emas dan faktor-Faktor Yang mempengaruhi Return LQ45 dan Return Emas Selama Periode 1995 – 2010 ”.  Untuk keperluan penelitian ini, Sri  Pangestuti menggunakan data sekunder yang antara lain diperoleh dari jurnal Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI) yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia, data pasar modal Indonesia dari Bursa Efek Jakarta dan berbagai sumber lainnya termasuk data dari internet.
1. Harga emas yang telah di-adjust dengan inflasi menunjukkan trend peningkatan harga yang lebih tinggi daripada nilai indeks LQ45 yang juga telah di-adjust dengan inflasi. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli (purchasing power) emas dalam jangka panjang lebih baik daripada saham  LQ45 sehingga dapat disimpulkan bahwa investasi emas dalam jangka panjang lebih menguntungkan daripada investasi saham LQ45 karena daya belinya lebih baik.
2. Return emas yang telah di-adjust dengan inflasi dalam jangka pendek lebih fluktuatif dibandingkan return LQ45 yang juga telah di-adjust dengan inflasi. Dalam jangka pendek LQ45 memberikan return yang lebih baik dalam arti lebih stabil dibandingkan emas.
3. Dari point 1 dan 2 tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa investasi saham LQ45 dalam jangka pendek lebih baik dibandingkan emas karena fluktuasinya lebih rendah daripada emas. Namun dalam jangka panjang emas memberikan return yang lebih baik yang ditunjukkan oleh harga emas yang jauh lebih tinggi dibandingkan saham LQ45, dan purchasing power emas lebih baik daripada saham LQ45.
4. Return LQ45 dan return emas dipengaruhi secara bersama-sama oleh faktor-faktor perubahan kurs, harga crude oil, inflasi, dan jumlah uang  beredar, serta peristiwa-peristiwa politik/ekonomi secara signifikan.
5. Perubahan kurs, inflasi, dan jumlah uang beredar secara individual  mempengaruhi return LQ45 dengan signifikan. Sementara faktor yang signifikan mempengaruhi return emas secara individual adalah perubahan kurs dan uang beredar. Sementara perubahan harga minyak mentah (crude oil) dan peristiwa-peristiwa politik/ekonomi tidak mempengaruhi baik return LQ45 maupun return emas.
6. Untuk tiap unit risiko LQ45 memberikan return sebesar 0,08567 atau 8,567%, sementara emas memberikan return sebesar 0,19840 atau 19,840% untuk tiap unit risiko. Bila diperbandingkan di antara keduanya, untuk tiap unit resiko yang sama emas memberikan hasil lebih besar yaitu 2,31577 kali dari yang diberikan oleh saham LQ45.
Motivasi penelitian : dalam penelitian ini bertujuan agar kita dapat mengetahui baik dan buruknya dalam berinvestasi emas,
dan mengetahui perkembangan harga emas di masa kini.

4. Masalah : Emas merupakan sebuah aset yang memiliki nilai tinggi dan akan naik setiap saat, berbeda dengan saham, yang nilainya naik turun sesuai dengan keadaan pasar
di sinilah pentingnya seseorang memiliki simpanan emas.
namun kebanyakan orang lebih memilih untuk berinvestasi dengan cara lain,tanpa tau kentungan dalam berinvestasi emas.
memang benar keuntungan yang diperoleh dari saham lebih besar dari investasi emas, namun yang harus anda ketahui adalah saham dapat membuat kita kaya, namun emas dapat membuat kita tetap kaya.

5. Tujuan penelitian :
-menganalisis perbandingan keuntungan dalam berinvestasi emas dengan investasi yang lainnya
-mengetahui perbedaan keuntungan dalam berinvestasi emas



ANALISIS JURNAL 2

1.Judul :KENAIKAN HARGA EMAS
 
Nama Pengarang :Herry A Pradana, SE
 
Tahun :2011

2.Tema : HARGA EMAS


3.Latar Belakang Masalah : 
Efek dari krisis ekonomi global serta krisis utang di AS membuat kondisi pasar global menjadi bergejolak. Beberapa harga komoditas mengalami fluktuasi sangat tinggi, bahkan dampak dari penurunan peringkat utang AS oleh Standards&Poor’s dari AAA menjadi AA+ memperparah situasi, terutama di perdagangan bursa di negara-negara Eropa, AS dan bahkan Asia.

Fenomena(data statistik/berita)
Kenaikan harga logam mulia yang terjadi saat ini bukan merupakan fenomena musiman. Lonjakan harga emas merupakan kecenderungan harga logam mulia yang memang terus meningkat. "Meski demikian, pembentukan harga emas ini tidak ada kaitannya dengan permintaan dan penawaran di dalam negeri. Harga emas yang terjadi saat ini lebih dibentuk oleh pergerakan penawaran dan permintaan di pasar internasional," ujar Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Jakarta, Kamis (8/9/2011), saat berbicara dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR terkait dengan Rancangan APBN 2012.\


Saat ini, harga emas di pasar (gold spot) berada di level 1.836,93 dollar AS per troy ounce (1 troy ounce setara 31,1 gram emas). Harga itu meningkat 1,07 persen dibandingkan dengan harga emas di pasar spot sehari sebelumnya.
Kenaikan harga emas juga terjadi di pasar New York (Comex Gold) yang ada di level 1.840,3 dollar AS per troy ounce. Harga tersebut berarti meningkat 1,25 persen dibandingkan dengan harga pada perdagangan hari sebelumnya.


Penelitian sebelumnya :  
Lembaga penelitian emas GFMS Ltd memprediksi harga emas masih akan terus mengalami reli di tahun ini. Penyebabnya, kecemasan geopolitik dan rendahnya tingkat suku bunga mendorong permintaan investasi emas. Menurut GFMS, kenaikan rata-rata kenaikan emas di 2011 mencapai 20 persen. ”Tahun 2011 harga emas rata-rata akan berada di kisaran 1.470 dollar AS per troy ounce dan kemungkinan akan naik di atas level 1.500 dollar AS,” kata Chief Excecutive Officer GFMS Paul Walker dari London kemarin.
Berdasarkan data Bloomberg, kontrak harga emas rata-rata untuk pengantaran cepat pada tahun lalu berada di kisaran 1.226,72 dollar AS per troy ounce.
Kenaikan harga emas sudah terjadi selama sepuluh tahun berturut-turut. Melonjaknya harga emas ini disebabkan upaya investor untuk melindungi hartanya seiring dengan tingginya inflasi dan pergolakan mata uang.
Motivasi penelitian :dalam jurnal tersebut dapat di ketahui bahwa motivasi penelitian ini adalah:
1. mengetahui harga emas dalam krisis ekonomi global ini
2. memberikan informasi tentang apa saja yg sedang terjadi di pasar dunia

4. Masalah :Dengan masalah krisis utang di Uni Eropa dan pembicaraan batasan utang AS, ada pelarian besar dana ke aset yang berkualitas. Emas adalah komoditas untuk investasi karena mata uang tidak berkinerja dengan baik. Lonjakan harga emas ini terjadi disaat pasar saham di berbagai belahan dunia mengalami koreksi besar akibat kekhawatiran terus meluasnya masalah krisis utang di Uni Eropa. Apalgi menteri keuangan kawasan Eropa sudah menyatakan kemungkinan terjadinya gagal bayar Yunani, sekaligus mereka gagal menghalangi penyebaran krisis ke Italia dan Spanyol.
Selain harga emas, harga minyak mentah dunia juga naik. Sempat turun, namun harga minyak mentah dunia selanjutnya naik karena munculnya rumor Bank Sentral Eropa akan membeli surat-surat berharga milik pemerintah AS.

5. Tujuan penelitian :
penelitian bertujuan untuk:
1. menganalisis hubungan antara harga emas dalam krisis perekonomian global
2. menganalisis perubahan harga emas dunia 



ANALISIS JURNAL 3

1.Judul :FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NAIK DAN TURUNNYA HARGA EMAS

Nama Pengarang : Yussie Arief

Tahun :2004

2.Tema : HARGA EMAS


3.Latar Belakang Masalah : Melemahnya kurs dollar AS biasanya mendorong kenaikan harga emas dunia. Hal ini karena jatuhnya nilai mata uang dollar membuat harga emas menjadi lebih murah dalam mata uang lain sehingga umumnya mendorong adanya kenaikan permintaan emas, terutama dari sektor industri perhiasan. Di Indonesia, pada pertengahan tahun 2001, ketika mata uang rupiah mengalami penguatan yang cukup signifikan, harga emas logam mulia (LM) pun menurun. Demikian pula ketika rupiah melemah, harga emas LM pun meningkat. Di awal tahun 2003, perbedaan kurs USD/IDR (dollar AS terhadap rupiah) dengan harga emas LM semakin melebar karena di samping harga emas di pasaran dunia tinggi, nilai dollar AS pun melemah.


Fenomena(data statistik/berita) :Kenaikan harga emas pada akhir tahun 2002 dan awal tahun 2003 terjadi sebagai dampak dari akan dilakukannya serangan ke Irak oleh sekutu yang dikomando AS. Pelaku pasar beralih investasi dari pasar uang dan pasar saham ke investasi emas sehingga permintaan emas melonjak tajam.
Dibandingkan investasi di pasar saham yang cenderung menurun, saat ini tingkat keuntungan yang didapat sekitar 5 persen per tahun, investasi emas dapat menghasilkan tingkat keuntungan sekitar 15 sampai 20 persen per tahun. Walaupun saat ini harga emas sedang terkoreksi, belum adanya titik terang penyelesaian antara AS dan Irak membuat harga emas berpotensi kembali menguat sampai masalah selesai. Saat ini pengaruh terbesar pergerakan harga emas adalah situasi politik dunia.
Faktor lain yang juga dapat dipertimbangkan sebagai hal yang dapat mempengaruhi pergerakan harga emas, sbb :
Suplai dan permintaan
Salah satu contoh hal yang dapat mempengaruhi suplai dan permintaan (supply and demand) dari emas adalah seperti kejadian pada pertengahan tahun 1980. Pada saat itu, penjualan forward oleh perusahaan pertambangan selalu dipersalahkan atas terjadinya kenaikan pada harga emas. Dalam kerangka bisnis, sebenarnya perilaku perusahaan pertambangan tersebut masuk akal. Dengan melakukan penjualan forward ketika harga emas menguat, mereka dapat mengamankan harga output tambang pada harga yang cukup menarik.
Contoh lainnya, kasus pada pertengahan tahun 1998 di mana harga emas terus merosot. Saat itu, bank-bank sentral di Eropa menyatakan akan mengurangi cadangan emasnya sehubungan rencana pemberlakuan mata uang euro. Harga emas langsung anjlok di sekitar 290 dollar per troy ounce.
Motivasi penelitian :
1. memberikan informasi tentang nilai tukar emas kepada masyarakat.
2. mengenali faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap emas.
4. Masalah : 
Ketika tingkat suku bunga naik, ada usaha yang besar untuk tetap menyimpan uang pada deposito ketimbang emas yang tidak menghasilkan bunga (non interest-bearing). Ini akan menimbulkan tekanan pada harga emas. Sebaliknya, ketika suku bunga turun, harga emas akan cenderung naik. Secara teori, jika suku bunga jangka pendek naik, harga emas turun. Di Indonesia teori ini tidak selalu berjalan. Pada tahun 1998, karena nilai tukar rupiah merosot tajam terhadap mata uang dollar AS, pemerintah menaikkan tingkat suku bunga secara signifikan. Harapannya, menahan laju kenaikan nilai tukar dollar AS. Akibatnya, walaupun tingkat suku bunga naik, harga emas juga naik. terlihat tingkat suku bunga tidak terlalu berpengaruh pada harga emas di Indonesia. Tetapi, lebih banyak dipengaruhi harga emas dunia sehingga pengaruh nilai tukar dollar AS terhadap rupiah sangat besar.

5. Tujuan penelitian :
1. untuk mengetahui faktor-faktor penting dalam perubahan harga emas
2. memberikan analisis tentang perbandingan harga emas saat terjadi krisis ekonomi


Nama: Nicholas.c
Kelas: 3ea11
Npm : 16209181

Sumber jurnal : 
http://hargaharga.wordpress.com/2010/03/08/faktor-yang-mempengaruhi-naik-turunnya-harga-emas/
http://www.google.com

http://salmadinar.blogspot.com/2010/04/mengenali-faktor-faktor-yang.html